Senin, 04 Juli 2011

MAHKOTA TERNATE (Maluku Utara)

Mahkota dengan sejumlah perhiasan batu permata, emas, perak, intan, berlian merah, zamrud akik dan shafir, mempunyai keunikan yaitu rambutnya selalu bertumbuh. Rambut ini selalu dipangkas pada Hari Raya Idul Adha dalam suatu upacara. Masyarakat adat Ternate menyebut mahkota dalam bahasa daerah “STAMPA”. 


Keberadaan Mahkota menurut beberapa kalangan sudah ada sejak kepemimpinan raja Ternate yang pertama Kolano Cico alias Masyhur Malamo (1257). Hingga kepemimpinan Sultan ternate yang ke 48 (Sri Sultan Mudaffar Syah II) kini, pusaka kesultanan tersebut masih terawat dan dijaga dengan baik oleh pihak keraton.


Mahkota Sultan Ternate ini merupakan salah satu peninggalan bersejarah kerajaan yang disakralkan keberadaannya. Mahkota tersebut dihiasi beberapa batu alam dan perhiasan bernilai tinggi seperti : emas, perak, perunggu, permata, intan, batu akik safir dan zamrud. Pada bagian atas hingga belakang mahkota di tumbuhi rambut/ bulu yang tiap tahunnya konon dapat tumbuh memanjang dengan sendirinya (fenomena ini sempat diteliti oleh beberapa pihak, namun baru sampai pada tataran menjelaskan jenis rambut ini bukan bersal dari manusia ataupun binatang). Untuk memotong rambut yang ada di mahkota Sultan Ternate tersebut dilakukan upacara adat yang biasanya dilaksanakan menjelang Idul Adha bersama pencucian benda pusaka lainnya. Mahkota ini dipakai oleh Sultan pada ritual atau acara adat tertentu saja. Pusaka kesultanan Ternate ini ditempatkan pada suatu ruangan di keraton Sultan Ternate yang hanya bisa dimasuki oleh Sultan dan permaisuri dan dijaga oleh orang kepercayaan yang telah ditunjuk pihak keraton. Mahkota Sultan Ternate ini juga ikut andil dalam menentukan pilihan siapa penerus tahta kesultanan Ternate berikutnya.
Dinamika yang tercipta dari perjalanan panjang sejarah kesultanan Ternate menciptakan kekhasannya tersendiri pada daerah ini. Sebagai generasi penerus yang berjiwa muda sudah sewajarnya kita dapat memetik dan mempelajari keberagaman budaya yang ada di tanah air tercinta ini sebagai wujud kecintaan kita akan kebesaran sejarah masa lalu.

 
Kedaton Sultan Ternate

Dibangun pada tanggal 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali di atas bukit Limau Santosa dengan luas areal 44.560 m2. Berbentuk segi delapan dengan dua buah tangga pada sisi kiri dan kanan di bagian depan. Bangunan ini menggambarkan seekor singa yang sedang duduk dengan dua kaki depan menopang kepalanya. Di dalam kedaton tersimpan benda-benda peninggalan milik kesultanan yang khas serta bernilai sejarah antara lain mahkota, Al-qur’an tulisan tangan yang tertua di Indonesia serta berbagai peralatan perang. Di depan istana terhampar lapangan Sunyie Ici dan Sunyie Lamo yang biasanya dipergunakan untuk prosesi upacara adat.

Sultan Mudzafar  Syah 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.